Jumat, 02 November 2012

PERENCANAAN PENELITAN TINDAKAN KELAS (PTK)


1.     MENGIDENTIFIKASI DAN MENGANALISIS MASALAH
      Dalam subunit ini dibahas tentang cara mengidentifikasi masalah, menganalisi dan merumuskan masalah sebagai bagian dari perencanaan PTK. Identifikasi masalah merupakan kegiatan awal di dalam rangkaian peroses pelaksanaan PTK. Jika guru dapat mengidentifikasi masalah-masalah pembelajaran dengan baik, maka ia telah memulai atau mengawali peroses PTK dengan benar. Dengan demikian akan mempermudah guru di dalam melakukan analisis masalah dan merumuskan hipotesis tindakan.

A.   Mengidentifikasi Masalah
            Suatu rencana PTK diawali dengan adanya masalah yang dirasakan atau disadari oleh guru seaai pengelola pembelajaran. Guru merasa bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki di kelasnya, yang jika dibiarkan akan berdampak buruk bagi peroses dan hasil belajar siswa. Misalnya, ada sekelompok siswa yang mengalami kesulitan yang sama dalam mempelajari suatu bagian pelajaran, ada siswa yang tidak disiplin mengerjakan tugas, atau hasil belajar siswa menurun secara drastic. Anda dapat mengemukakan contoh lain dari pengalaman Anda sendiri dalam mengelola peroses pembelajaran. Masalah yang dirasakan guru mungkin masih kabur, sehingga guru perlu merenung atau melakukan refleksi agar masalah tersebut menjadi semakin jelas. Hopkins (1993) menekankan bahwa pada awalnya guru mungkin bingung untuk mengidentifikasi masalah, oleh karena itu, guru tidak selalu harus mulai dengan masalah. Guru dapat mulai dengan suatu gagasan untuk melakukan perbaikan, kemudian mencoba memfokuskan gagasan tersebut. Meskipun demikian akan lebih baik bila mana Anda mengawalinya dengan menemukan suatu masalah yang benar-benar nyata dihadapi karena hal itu akan mempermudah merumuskan bentuk tindakan perbaikan yang sesuai.

Sudarsono (1996/1997: 5) mengungkapkan beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan panduan untuk mengidentifikasi masalah.
1.      Apa yang menjadi keprihatinan Anda (guru, kepala sekolah)?
2.      Mengapa Anda memperhatikannya?
3.      Menurut Anda, apa yang dapat Anda lakukan untuk itu?
4.      Bukti-bukti apa yang dapat Anda kumpulkan agar dapat membantu membuat penilaian tentang apa yang terjadi?
5.      Bagaimana Anda mengumpulkan bukti-bukti tersebut?
6.      Bagaimana Anda melakukan pengecekan terhadap kebenaran dan keakuratan tentang apa yang telah terjadi?
            Meskipun pertanyaan di atas Nampak sederhana, akan tetapi membutuhkan waktu dan pemikiran yang serius untuk menjawabnya. Mungkin diperlukan waktu untuk merenung atau melakukan refleksi tentang apa yang sesungguhnya terjadi di kelas. Perlu kembali diingat bahwa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada refleksi diri membutuhkan keterbukaan dan kejujuran.
            Tidak jauh berbeda dengan pendapat di atas, Wardani (2003:2.5) memamparkan beberapa bentuk pertanyaan sederhana untuk menjadi acuan di dalam mengidentifikasi masalah yang dapat dijawab oleh guru sendiri :
1.      Apa yang sedang terjadi di kelas?
2.      Masalah apa yang ditimbulkan oleh kejadian itu?
3.      Apa pengaruh tersebut bagi kelas saya?
4.      Apa yang akan terjadi jika masalah tersebut saya biarkan?
5.      Apa yang saya dapat lakukan untuk mengatasi masalah tersebut atau memperbaiki situasi yang ada?
            Contoh hasil identifikasi yang pernah dilakukan guru ketika mengawali perencanaan PTK, terutama untuk menjawab pertanyaan pertama tentang apa yang terjadi di kelas.
Ilustrasi :
            Pak Dian adalah salah satu guru IPA yang mengajar di kelas V. ia merasa ada masalah dalam pembelajaran yang dilakukannya. Dari hasil identifikasi yang ia lakukan, ada beberapa masalah yang berhasil ia identifikasi.
1.      Siswa kurang memperhatikan ketika guru menjelaskan materi pelajaran.
2.      Sebagian siswa tidak melakukan dengan sungguh-sungguh ketika pratikum IPA. Mereka lebih banyak bermain dari pada melakukan latihan.
3.      Terdapat beberapa siswa yang seringkali mengganggu teman-teman sekelas sehingga suasana belajar menjadi terganggu.
4.      Seringkali ditemukan beberapa siswa melakukan aktivitas sendiri ketika guru menerangkan pelajaran, akan tetapi mereka tidak mengganggu teman-teman lain dan tidak membuat keributan di kelas. Misalnya mereka menggambar, padahal guru sedang menjelaskan materi pelajaran IPA.

B.   Menganalisis dan Merumuskan Masalah
            Menganalisi masalah merupakan langkah yang harus dilakukan guru setelah melakukan identifikasi. Jika melalui identifikasi Anda dapat menemukan beberapa masalah yang terkait dengan kegiatan pembelajarandi kelas, maka analisis bertujuan agar masalah tersebut menjadi lebih jelas dan dapat menduga faktor-faktor penyebabnya. Guru sebagai peneliti selanjutnya perlu melakukan analisis. Analisis dapat kita lakukan dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri atau yang disebut rifleksi, dan dapat pula mengkaji ulang berbagai dokumen seperti pekerjaan siswa, daftar hadir, atau daftar nilai, persiapan mengajar atau bahkan mungkin bahan pelajaran yang kita siapkan.
           
Analisis masalah mempunyai beberapa tujuan, yaitu :

a)      Mendapatkan kejelasan masalah yang sesungguhnya
      Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa melalui identifikasi masalah biasanya guru menemukan beberapa masalah dalam pembelajaran. Analisis dapat dilakukan dengann mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri atau dengan melakukan refleksi diri. Guru dapat mengajukan pertanyaan seperti, apakah ketidak tertarikan siswa tersebut berlaku pada semua materi pelajaran atau pada materi-materi tertentu. Apakah materi pelajaran yang tidak menarik, ataukah cara penyampaian guru yang membuat siswa tidak tertantang bahkan mungkin membuat siswa merasa jenuh.

b)     Menemukan kemungkinan faktor penyebab
      Dengan melakukan analisis masalah secara cermat, disamping dapat menjadikan masalah semakin jelas serta spesifik, juga sekaligus dimungkinkan menemukan faktor-faktor penyebab munculnya masalah tersebut. Untuk menemukan faktor penyebab dalam kegiatan analisis masalah ini ada 2 cara yang dapat dilakukan guru. Pertama merenung kembali masalah tersebut dengan cara mengajukan pertanyaan yang harus Anda jawab sendiri. Contoh pertanyaan yang dapat diajukan.
-        Apakah cara saya menjelaskan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa?
-        Apakah penjelasan yang saya berikan sudah cukup disertai contoh-contoh?
Cara kedua untuk menemukan faktor penyebab munculnya suatu masalah, Anda juga dapat bertanya kepada siswa, baik dengan menggunakan wawancara maupun dengan memberikan kuesioner. Pertanyaan sederhana yang dapat Anda ajukan kepada siswa, misalnya :
-        Apakah kamu mengerti pelajaran yang guru jelaskan?
-        Apa tnggapan kamu tentang cara guru menjelaskan materi pelajaran?
      Secara langsung maupun tidak langsung ketika guru melakukan analisis masalah seperti ini ia juga sudah terlibat di dalam memikirkan faktor-faktor penyebabnya. Keadaan seperti ini merupakan langkah yang positif untuk kelanjutan tahapan di dalam PTK.

c)      Menentukan kadar permasalahan
      Untuk membantu mempertajam analisis masalah, guru dapat menganalisis beberapa komponen berikut:
1.      Menganalisis daftar hadir siswa.
2.      Menganalisis daftar nilai siswa untuk menemukan bagaimana hasil belajar mereka peroleh.
3.      Menganalisis tugas-tugas yang diberikan kepada siswa beserta bahan ajaran yang dipakai, apakah tugas-tugas dan bahan pelajaran tersebut sudah cukup menantang atau membosankan.
4.      Menganalisis balikan (feedback) yang diberikan guru terhadap pelajaran siswa.
      Menurut Borg (2001), kata benda permasalah memiliki makna konvensional dan makna teknis. Dalam pemikiran konvensional, suatu permasalahan dapat diartikan sebagai seperangkat kondisi yang memerlukan pembahasan, keputusan, suatu solusi atau informasi. Sebuah permasalahan penelitian menyatakan secara tidak langsung kemungkinan inventigasi empiris, yakni pengumpulan data dan analisis.
      Abimayu (dalam Wardani 2003) mengingatkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan masalah.
1.      Janga memilih masalah yang Anda tidak kuasai.
2.      Ambilah topic yang skalanya kecil dan relatif terbatas.
3.      Pilih masalah yang dirasakan paling penting bagi Anda dan murid Anda.
4.      Kaitkan masalah dengan upaya pengembangan sekolah.
      Untuk menentukan masalah mana yang menjadi prioritas untuk dikaji atau dipecahkan melalui PTK berikut ini ada beberapa hal yang dapat dijadikan acuan:
1.      Masalah harus benar-benar penting bagi guru yang berssangkutan serta bermakna dan bermanfaat bagi pengembangan pembelajaran guna mengingkatkan kualitas pendidikan.
2.      Masalah harus dalam jangkauan kemampuan guru dalam melaksanakan tindakan kelas.
3.      Maslah yang Anda harus pilih untuk dipecahkan melalui penelitian tindakan harus dirumuskan secara jelas agar dapat mengungkap berbagai faktor penyebab utamannya sehingga memungkinkan dicari alternatif pemecahannya.

2.     MENILAI KELAYAKAN HIPOTESIS TINDAKAN
      Pemahaman akan langkah-langkah ini akan sangat membantu Anda dalam menyusun rencana dan melaksanakan PTK selanjutnya.

A.   Memahami hipotesis tindakan
            Secara umum, hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan tentang hubungan dua varibel atau lebih (Kerlinger, 1993). Hipotesis juga dapat diartikan sebagai jawaban yang yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul  (Arikunto, 1998: 67). Hipotesis selalu mengambil bentuk kalimat pernyataan dan menghubungkan secara umum maupun khusus variabel yang satu dengan variabel yang lain. Ada tiga alasan yang menopang alasan ini. Pertama, hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis dapat dijabarkan dari teori-teori dan dari hipotesis lain. Kedua, hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan betul dan salahnya, yang diuji adalah relasi (hubungan). Karena hipotesis adalah proposisi relasional inilah yang merupakan alasan utama mengapa ia digunakan di dalam telaah ilmiah. Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan, ia demikian pentingnya, sehingga kita berani mengatakan bahwa jika tidak ada hipotesis tidak akan pernah ada ilmu pengetahuan dalam arti yang sepenuh-penuhnya (Kerlinger, 1993).
            Borg dan Gall (2003), mengajukan beberapa persyaratan untuk merumuskan hipotesis:
1.      Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas.
2.      Hipotesis harus dengan nyata menujukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel.
3.      Hipotesis harus didukung oleh teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang relevan.
            Hipotesis tindakan hendaknya dipahami sebagai suatu dugaan yang bakal terjadi jika suatu tindakakn dilakukan (Sudarsono, 1997: 9). Sebagai contoh: “jika intensitas latihan membuat kalimat ditingkatkan, maka siswa akan lebih muidah menyusun suatu karangan”.
            Hipotesis tindakan harus dibuat atau dirumuskan dengan melakukan kajian terhadap teori atau dengan mengkaji pengalaman dalam praktik pembelajaran yang telah dilakukan. Merumuskan hipotesis tindakan guru dapat melakukan beberapa bentuk kegiatan.
1.      Kajian literature khususnya teori pendidikan atau pembelajaran.
2.      Kajian hasil-hasil penelitian yang relevan dengan permasalahan.
3.      Kajian hasil diskusi dengan rekan sejawat, pakar, peneliti dll.
4.      Kajian pendapat dan saran pakar pendidikan.
            McMillan dan Schumecher (2001), melihat pentingnya peran kajian literatur ini karena kegiatan ini akan membantu peneliti menetapkan secara cermat signifikansi masalah yang akan diteliti sehingga akan semakin mampu membimbing pikiran peneliti untuk membatasi masalah penelitiannya, mengembangkan rencana penelitian, memilih metode dan alat ukur yang  tepat serta mengembangkan hipotesis.

B.   Menilai kelayakan hipotesis
            Beberapa persyaratan yang harus dikaji untuk menilai kelayakan suatu tindakan yang akan dikembangkan melalui PTK seperti berikut ini.

1.      Memiliki pengetahuan dan pengalaman
      Guru harus memahami hal-hal yang berkaitan dengan PTK, baik cara merencanakan, melaksanakan, pengumpulan dan analisi dta dan refleksi serta hal-hal lain yang terkait dengan pelaksanaan PTK. Secara umum ada 2 hal yang harus dipahami guru. Pertama, pemahaman tentang hal berkaitan dengan substansi tindakan yang dipilih sebagai solusi pemecahan masalah pembelajaran. Kedua, pemahaman berkenaan dengan PTK itu sendiri. Jika kedua komponen ini telah dipahami guru, maka ia dapat merencanakan PTK. Anda  tentu masih ingat saran yang sering disampaikan dalam beberapa bagian pembahasan, yaitu jangan mengambil atau mengangkat suatu maslah untuk dikembangkan dalam PTK jika guru tidak memilik pemahaman yang memadai tentang hal itu.

2.      Kemampuan siswa
      Pembelajaran yang berpusat pada siswa, siswa merupakan sentral dari segala kegiatan pembelajaran. Jika hal ini kita pahami dengan baik, maka kita tidak akan pernah lupa memikirkan tindakan yang kita pilih untuk dikaji dari dimensi mereka. hal pokok yang sangat penting dilakukan adalah mengkaji seberapa besar tingkat kemampuan siswa di dalam mengerjakan latihan. beberapa seringnya latihan itu dilakukan dan berapa banyak jumlah soal yang diberikan setiap kali latihan harus dikaji oleh guru secara cermat, karena ketidak tepatan di dalam penentuannya, disamping memberikan beban yang tidak sesuai bagi siswa, juga dikhawatirkan motivasi siswa di dalam mengerjakan latihan tersebut justru semakin menurun. Jika hal itu terjadi maka harapan guru agar terjadi perubahan hasil belajar pada siswa-siswanya hanya menjadi angan-angan belaka, sementara ia telah menghabiskan waktu dan energi yang tidak sedikit untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan tersebut. Karena itu, jika Anda memutuskan untuk melakukan suatu tindakan perbaikan dalam PTK, Kaji dan cermati dengan seksama kemampuan siswa-siswa Anda.

3.      Ketersediaan sarana dan fasilitas
      Jika tindakan perbaikan yang tertuang dalam hipotesis Anda berkaitan dengan penggunaan sarana atau fasilitas tertentu, Maka di samping mengkaji poin pertama dan kedua di atas, Anda juga harus mengkaji ketersediaan dan keterpakaian sarana dan fasilitas pendukung tersebut.
      Mungkin pada tempat yang berbeda atau kesempatan lain di lingkungan sekolah Anda, ada guru yang bermaksud meningkatkan keterampilan siswa dalam menggunakan atau memanfaatkan alat-alat seni melalui proses pembelajaran kesenian yang dikelolanya. Penelitian semacam ini baik untuk dilakukan karena perubahan  hasil belajar yang diharapkan dapat diamati secara langsung oleh guru.

4.      Waktu yang tersedia
      Tugas utama guru adalah mengajar. Oleh sebab itu pelaksanaan peroses pembelajaran di kelas selalu diupayakan agar tidak terganggu oleh kegiatan-kegiatan lain, terlebih lagi kegiatan tersebut memang ditujukan untuk memperbaiki kinerja pembelajaran seperti PTK. Guru harus cermat menetapkan waktu untuk melaksanakan langkah-langkah kegiatan pembelajarannya. Sekali lagi Anda tidak boleh mengabaikan faktor waktu dalam menilai kelayakan hipotesis tindakan Anda. Karena kegagalan suatu tindakan seringkali lebih banyak terjadi bukan karena kurangnya kemampuan guru atau kurangnya sarana dan fasilitas, akan tetapi karena keterbatasan waktu untuk melaksanakan tahapan-tahapan kegiatan yang telah dirancang.

5.      Iklim kelas dan iklim sekolah
      Adakalanya guru berhadapan dengan suatu keadaan yang berada di luar kemampuan dan wewenangnya untuk merubah atau mengintervensinya, padahal keadaan itu sangat mengganggu peroses pembelajaran. Iklim psikologis juga dapat memberikan pengaruh bagi kelancaran pelaksanaan tindakan dalam PTK. Karena itu berkaitan dengan iklim kelas dan sekolah ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk dapat mengkaji secara cermat kelayakan hipotesis Anda.
-        Yakinkan bahwa tindakan perbaikan yang akan Anda lakukan tidak mengganggu kelancaran kegiatan pembelajaran kelas-kelas yang lain.
-        Yakinkan bahwa petunjuk-petunjuk atau penjelasan yang akan Anda sampaikan berkenaan dengan tindakan dalam PTK Anda.
-        Yakinkan diri Anda bahwa tindakan perbaikan yang Anda pilih didukung oleh teori-teori atau hasil-hasil penelitian yang sudah ada.


PENUTUP

KESIMPULAN

1.     MENGIDENTIFIKASI DAN MENGANALISIS MASALAH
A.   Mengidentifikasi Masalah
Suatu rencana PTK diawali dengan adanya masalah yang dirasakan atau disadari oleh guru seaai pengelola pembelajaran. Guru merasa bahwa ada sesuatu yang harus diperbaiki di kelasnya, yang jika dibiarkan akan berdampak buruk bagi peroses dan hasil belajar siswa. Misalnya, ada sekelompok siswa yang mengalami kesulitan yang sama dalam mempelajari suatu bagian pelajaran, ada siswa yang tidak disiplin mengerjakan tugas, atau hasil belajar siswa menurun secara drastic.
Sudarsono (1996/1997: 5) mengungkapkan beberapa pertanyaan yang dapat dijadikan panduan untuk mengidentifikasi masalah.
1.      Apa yang menjadi keprihatinan Anda (guru, kepala sekolah)?
2.      Mengapa Anda memperhatikannya?
3.      Menurut Anda, apa yang dapat Anda lakukan untuk itu?
4.      Bukti-bukti apa yang dapat Anda kumpulkan agar dapat membantu membuat penilaian tentang apa yang terjadi?
5.      Bagaimana Anda mengumpulkan bukti-bukti tersebut?
6.      Bagaimana Anda melakukan pengecekan terhadap kebenaran dan keakuratan tentang apa yang telah terjadi?

Wardani (2003:2.5) memamparkan beberapa bentuk pertanyaan sederhana untuk menjadi acuan di dalam mengidentifikasi masalah yang dapat dijawab oleh guru sendiri :
1.      Apa yang sedang terjadi di kelas?
2.      Masalah apa yang ditimbulkan oleh kejadian itu?
3.      Apa pengaruh tersebut bagi kelas saya?
4.      Apa yang akan terjadi jika masalah tersebut saya biarkan?
5.      Apa yang saya dapat lakukan untuk mengatasi masalah tersebut atau memperbaiki situasi yang ada?

B.   Menganalisi dan Merumuskan Masalah
Menganalisi masalah merupakan langkah yang harus dilakukan guru setelah melakukan identifikasi.
Analisis masalah mempunyai beberapa tujuan, yaitu :
a.      Mendapatkan kejelasan masalah yang sesungguhnya
b.      Menemukan kemungkinan faktor penyebab
c.       Menentukan kadar permasalahan

2.     MENILAI KELAYAKAN HIPOTESIS TINDAKAN
Pemahaman akan langkah-langkah ini akan sangat membantu Anda dalam menyusun rencana dan melaksanakan PTK selanjutnya.
A.    Memahami hipotesis tindakan
Secara umum, hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan tentang hubungan dua varibel atau lebih (Kerlinger, 1993). Hipotesis juga dapat diartikan sebagai jawaban yang yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul  (Arikunto, 1998: 67). Hipotesis selalu mengambil bentuk kalimat pernyataan dan menghubungkan secara umum maupun khusus variabel yang satu dengan variabel yang lain.
Borg dan Gall (2003), mengajukan beberapa persyaratan untuk merumuskan hipotesis:
1.      Hipotesis harus dirumuskan dengan singkat tetapi jelas.
2.      Hipotesis harus dengan nyata menujukkan adanya hubungan antara dua atau lebih variabel.
3.      Hipotesis harus didukung oleh teori yang dikemukakan oleh para ahli atau hasil penelitian yang releva

B.     Menilai kelayakan hipotesis
Beberapa persyaratan yang harus dikaji untuk menilai kelayakan suatu tindakan yang akan dikembangkan melalui PTK seperti berikut ini.
a.       Memiliki pengetahuan dan pengalaman
b.      Kemampuan siswa
c.       Ketersediaan sarana dan fasilitas
d.      Waktu yang tersedia
e.       Iklim kelas dan iklim sekolah


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto S. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Borg Walter, R. (1981). Applying Educational Research: A Practical Guide for Teacher. USA: Longman Inc.
Borg Walter, R dan Gall Joyce, P. (2003). Educational Research An Introduction. Seven Edition. USA: Library of Congress Cataloging-in-Publication Data.
Editorial Buletin Peningkatan Mutu Pendidikan SLTP. (2001). Pedoman Teknis Pelaksanaan Classroom Action Research (CAR). Pelangi Pendidikan, Vol 4 Nomor 2 tahun 2001.
Hopkins, D. (1993). A Teacher’s Guide to Classroom Research. Buckingham: open Unniversitas Press.
Kerlinger Freed, N. (1993). Asas-asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta: Gajah Mada Universirty Press
McMillan James, H dan Schummacher, S. (2001). Research in Education: A Conceptual Introduction. Fifth Edition. USA: Addision Wesley Longman, Inc.
Sudarsono, FX. (1996/1997). Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Bagian Kedua: Rencana, Desain dan Implementasi. Dirjen Dikti.
Wardani, I G.A.K. (2003). Hakikat Penelitian Tindakan Kelas. Buku Materi Pokok Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuak.

0 komentar:

 
Copyright © Metamorfosa27 ·
·