Home » , » PROSPEK PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR

PROSPEK PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR


Siswa sering kali merasa bosan dengan  pelajaran IPS di sekolah. Kebosanan itu bisa timbul di samping akibat dari  kurang dipahaminya apa sebenarnya IPS, juga metodologi pembelajaran yang digunakan sering tidak berhasil menarik perhatian siswa. Bahkan guru sering kali tidak mempunyai acuan yang jelas, apalagi kreatifitas untuk menciptakan metode yang menarik untuk digunakan dalam mengajar. Kebosanan juga bisa timbul akibat materi pelajaran tidak sesuai dengan tingkat perkembangan dan konteks kehidupan siswa. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif metode pembelajaran yang sesuai dengan sifat dan tujuan dari pendidikan IPS di sekolah. Bab ini akan membahas upaya mencari metode pembelajaran IPS tersebut yang mudah-mudahan dapat dijadikan salah satu acuan bagi guru atau calon guru SD dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Bab ini dibahas dengan tujuan antara lain, untuk mendapatkan kemampuan:
1.  Mengidentifikasi isi/materi  pembelajaran IPS
2.  Mengenali berbagai metode pembelajaran dalam pendidikan IPS
3.  Memahami langkah-langkah setiap metode pembelajaran yang dijelaskan dalam bab ini.
4.  Dapat melaksanakan langkah- langkah metode pembelajaran IPS dalam bentuk latihan di kelas.
5.Membedakan metode pembelajaran untuk fakta dan konsep dengan metode pembelajaran untuk pengembangan nilai-nilai.
Pembelajaran IPS pada masa sekarang dan ke depan, haruslah berbeda dengan pembelajaran IPS pada masa yang lalu. Dari segi materi pelajaran, terdapat beberapa faktor yang mengharuskan perbedaan tersebut, misalnya IPS pada masa yang lalu sangat menekankan penguasaan fakta-fakta meski pada tingkat yang rendah, misalnya dengan menghapalkan nama-nama gunung, sungai, ibukota negara propinsi dan sebagainya. IPS lama juga ditandai dengan pembelajaran rasa nasionalisme yang tidak kritis (dogmatis), dan sangat berorientasi kepada buku teks. Sementara itu, pembelajaran IPS sekarang dan yang akan datang, dari segi materi pelajaran difokuskan pada upaya membantu dan memfasilitasi siswa agar mereka memiliki kemampuan untuk berpartisipasi sebagai warga komunitas, warga negara, dan warga dunia dengantingkat perubahan yang amat cepat. Banks (1990) menyebut bahwa pengajaran IPS pada abad 21 ini dirancang untuk mempersiapkan siswa agar mampu berpartisipasi secara efektif pada masyarakat post-industri. Masyarakat post-industri menurutnya, memiliki karakteristik yang serba global, seperti ekonomi global, upaya pemecahan masalah-masalah internasional, perubahan gaya hidup, nilai-nilai, kepercayaan, budaya dan sentimen politik. Masih menurut Banks, bahwa masyarakat global pada era post-industri juga akan diwarnai dengan peningkatanpartisipasi masyarakat terhadap lembaga-lembaga kemasyarakatan bukansaja lembaga politik, akan tetapi sampai kepada lembaga-lembaga yang berhubungan dengan pekerjaan masyarakat sehari-hari. Aktivitas politik juga akan meningkat bukan saja pada tingkat nasional, tetapi pada tingkat lokal dan regional. Isu desentralisasi dan sharing kekuasaan ke pemerintahan tingkat lokal (daerah-daerah) akan mewarnai masyarakat post-industri. Demikian juga dengan pemberian kewenangan untuk mengambil keputusan. Tak kalah penting juga masalah-masalah dan isu-isu yang menyangkut fenomena kealaman, seperti rusaknya ozon dan atmosfir bumi, rekayasa genetik, pengembangan tenaga nuklir untuk kepentingan perdamaian, masalah kependudukan dan sebagainya. Masalah-masalah tersebut mengemuka sebagai masalah masyarakat secara lokal, regional, nasional, dan internasional yang memerlukan pemahaman agar seseorang dapat berpartisipasi memberi jawaban dan ikut memecahkan masalah tersebut. Untuk mendapatkan kemampuan yang dituntut seperti dijelaskan di atas, maka siswa perlu difasilitasi agar mampu mengembangkan pengetahuan, kecakapan, sikap, nilai-nilai dan komitmen yang dibutuhkan. Kemampuan tersebut juga dibutuhkan untuk berpartisipasi dalam mengembangkan masyarakat yang demokratis secara bertanggung jawab. Untuk itu, kemampuan mengakui dan menghargai kemajemukan dalam masyarakat sebagai kenyataan adalah amat penting dikuasai. Penguasaan pengetahuan dalam pembelajaran IPS pada masa yang akan  datang adalah penguasaan pengetahuanpada level yang lebih tinggi dari sekedar menghapalkan fakta-fakta. Dari segi metodologi pembelajaran seyogianya dikembangkan metode-metode mengajar yang mampu memfasilitasi siswa untuk melakukan klarifikasi, memiliki kecakapan berpikir (reflektif), melakukan identifikasi secara kritis tentang budaya baik di tingkat lokal dekat tempat tinggal, regional, nasional, maupun internasional. Untuk itu, sumber belajar yang beragam sangat dibutuhkan.            
Materi dalam Pembelajaran IPS
Untuk memudahkan dalam menguasai metodologi pembelajaran IPS, maka haruslah lebih dulu dikuasai apa yang menjadi isi dasar dari pendidikan IPS tersebut. Tanpa memahami apa isi dasar dari pendidikan IPS, maka sukar untuk dapat menguasai pembelajaran dalam IPS. Halitu disebabkan, seringkali metode mengajar disesuaikan dengan isi yang hendak diajarkan. Isi dari materi pembelajaran IPS berjenjang dari mulai fakta, konsep, generalisasi dan teori. Fakta ialah keadaan tertentu tentang kejadian atau sesuatu yang nyata yang menjadi data atau sasaran observasi, seperti orang, tempat, arti kejadian atau keadaan yang spesifik (zaini ....). Contoh fakta misalnya “sekapur sirih adalah tariah tradisional masyarakat Jambi untuk menyambut tamu kehormatan dalam upacara tertentu. Contoh lain, “Malaysia telah menjadi penghasil minyak sawit terbesar dunia pada tahun 2005”. Jambi atau Malaysia dalam pernyataan di atas, adalah menunjuk satu tempat secara spesifik yang merupakan karakteristik dari fakta. Jadi jika keadaan yang diterangkan itu terdapat di beberapa tempat, maka hal itu menunjukkan bahwa kalimat itu tidak lagi menjelaskan fakta. Misalnya jika dinyatakan “terdapat banyak jenis tarian yang digunakan untuk menyambut tamu dalam upacara tertentu”. Karakteristik yang lain ialah bahwa kebenaran fakta itu dapat dibuktikan  melalui pengamatan dan dapat diuji oleh orang banyak. Pada contoh di atas, fakta ditandai dengan hal tersebut. Bahwa sekapur sirih itu salah satu tarian di propinsi Jambi dan ditarikan pada saat upacara tertentu dalam penyambutan tamu adalah benar dan kebenaran itu dapat dibuktikan oleh anyak orang melalui pengamatan. Demikian pula bahwa Malaysia sebagai penghasil minyak sawit terbesar, kebenarannya juga dapat dibuktikan dan dapat diamati oleh orang banyak. Pengetahuan yang di dalamnya mengandung isi fakta adalah merupakan pengetahuan tingkat rendah dan disebut sebagai pengetahuan faktual. Disebut rendah karena untuk menguasainya cukup dengan menghapalkannya. Adapun konsep adalah pernyataan dalam bentuk kata, atau frase yang abstrak yang mengkatagorikan sekelompok benda, atau ide, atau konsep kejadian (zaini....), sebagai contoh, konsep tentang rumah: “Rumah adaah bangunan fisik yang dibuat sebagai tempat berlindung atau tempat tinggal sebuah keluarga”. Konsep tentang pulau:” Pulau adaah daratan yang dikelilingi oleh perairan atau laut”. Salah satu ciri dari suatu konsep ialah mempunyai karakteristik yang menjadi definisi, sebagai hasil abstraksi dari sekumpulan fakta dalam satu atau beberapa cirinya. Pengetahuan yang dirangkai dari konsep-konsep, maka disebut pengetahuan konseptual. Contoh pengetahuan konseptual misalnya, pengetahuan tentang perubahan masyarakat, pengetahuan tentang produksi dan distribusi, pengetahuan tentang lembaga politik, nasionalisme dan sebagainya. Sedangkan generalisasi adalah pernyataan yang memuat rangkaian hubungan antara dua konsep atau lebih. Generalisasi amat bervariasi dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Contoh generalisasi misalnya, “produktivitas suatu jenis tanaman dipengaruhi oleh ketinggian suatu daerah dari permukaan air laut” atau contoh yang lain, “kebudayaan yang berkembang di masyarakat, berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain”. Contoh yang pertama di atas, generalisasi tersebut dirangkai dari konsep tentang produktivitas dan konsep tentang jenis tanaman, dan konsep tentang ketinggian suhu di suatu daerah. Dari contoh berikutnya dapat diidentifikasi bahwa generalisasi tersebut terdiri dari konsep tentang kebudayaan, dan konsep tentang masyarakat. Ciri yang mudah dipahami dari generalisasi ialah bahwa generalisasi itu mengandung 2 konsep atau lebih, dan biasanya menyangkut hubungan konsep-konsep yang dimuat tersebut. Ciri lain adalah bahwa kesimpulan generalisasi itu berlaku untuk keseluruhan kelompok, atau peristiwa di manapun. Generalisasi yang sudah teruji secara empirik, dapat menjadi dalil, hokum, atau teori.
Metode Inkuiri Sosial dalam Pembelajaran IPS
Setelah mengenali isi materi pembelajaran IPS, maka seorang calon guru akan lebih mudah mencari metode yang cocok untuk materi pembelajaran yang dirancang. Salah satu metode yang dipandang efektif falam pembelajaran IPS ialah metode inkuiri sosial (the method of social inquiry). Metode ini bertujuan utamanya adalah untuk membangun teori. Suatu pekerjaan berat yang biasanya dikerjakan oleh para ilmuwan-ilmuan sosial. Akan tetapi mereka yakin bahwa metode inkuiri ini perlu diajarkan kepada anak sejak di tingkat pendidikan dasar, untuk membentuk kemampuan berpikir kritis mereka. Kebiasaan berpikir kritis akan berguna dalam kehidupan sehari-hari dalam menghadapi masalah dan memecahkannya. Teori ini biasanya diformulasi dari fakta konsep dan generalisasi. Inkuiri sosial didasarkan pada beberapa asumsi yang berhubungan dengan hakekat kehidupan kemanusiaan dan lingkungannya di dunia ini. Secara ilmiah pengetahuan sosial memandang bahwa alam semesta ini diciptakan Tuhan dalam keadaan yang teratur, permanen (dalam pengertian tidak berubah dalam waktu tertentu), dan memiliki ciri-ciri yang relatif tetap. Hal seperti itu memudahkan kita untuk melakukan kajian dan membuat generalisasi yang dibutuhkan. Apabila sesuatu di alam ini mengalami perubahan yang tidak menentu, maka kita akan kesulitan melakukan kajian dan membuat generalisasi, misalnya mengenai perilaku manusia. Metode inkuiri sosial diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran dengan model inkuiri. Dengan kata lain, model inkuiri sosial adalah merupakan perwujudan dari pelaksanaan metode inkuiri sosial dalam pembelajaran IPS. Menurut Banks (1990:75) model inkuiri sosial memiliki prosedur dalam beberapa tahapan, yaitu: (1) perumusan masalah, (2) perumusan hipotesa, (3) definisi (konseptualisasi) masalah, (4) pengumpulan data, (5) evaluasi dan analisis data, (6) pengujian hipotesis untuk membentuk generalisasi dan teori, serta (7) kembali ke awal secara siklus melakukan inkuiri sekali lagi. Meskipun prosedur seperti ini kelihatan rumit karena di kelas rendah belum biasa dilakukan, tetapi harus dicoba untuk membelajarkan model inkuiri ini pada pendidikan tingkat dasar untuk membantu anak membiasakan diri berpikir kritis dan sistematis.
(1) Perumusan Masalah
Perumusan masalah dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana oleh guru kepada siswa. Sebagai contoh: Pada pelajaran IPS di kelas 5 Sekolah Dasar, pada pokok bahasan yang berbasis Sejarah dan Kebudayaan Indonesia. Siswa diminta untuk membaca satu pokok bahasan yang berisi tulisan tentang budaya Indonesia. Selanjutnya, diminta mencari jawaban terhadap pertanyaan berikut: “berdasarkan pokok bahasan yang dibaca tersebut, masyarakat di daerah mana di Indonesia yang paling banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup manusia.
Setelah selesai dalam waktu yang ditentukan, maka guru menuliskan daftar nama daerah yang disebut dalam pokok bahasan berdasarkan jawaban yang dikemukakan siswa. Selanjutnya, kelas dibentuk menjadi 6 kelompok masing-masing beranggotakan 5 orang. Masing-masing kelompok diminta menjawab pertanyaan berikut ini:
Kelompok 1 dan 2 :
Nama-nama daerah yang ada dalam daftar itu terletak di pulau mana saja? Pulau mana yang paling banyak memiliki daerah yang berhasil didaftar tersebut?
Kelompok 3 dan 4 :
Daerah yang berhasil didaftar itu, lebih banyak terletak di daerah pantai atau di dataran tinggi dan pegunungan? Kelompok 5 dan 6 : Suku bangsa apa saja yang mendiami daerah yang banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup manusia tersebut?” Setelah selesai, wakil kelompok masing-masing diminta menyampaikan hasil kerja kelompok dan menuliskannya di papan tulis. Berdasarkan jawaban atas pertanyaan tersebut, siswa dibantu untuk memilih pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi syarat untuk dijadikan rumusah masalah. Kriteria yang digunakan yaitu :
a. Pertanyaan itu jelas, dan menanyakan sesuatu yang dapat dimengerti oleh banyak orang.
b. Pertanyaan itu kelak dapat dicari jawabannya berdasarkan bahan bacaan pada
pokok bahasan yang bersangkutan.
Berdasarkan kriteria tersebut, siswapun dapat mengajukan pertanyaan yang belum ada, tetapi memenuhi syarat untuk dijadikan rumusan masalah. Setelah dilakukan diskusi, maka berhasil dipilih beberapa pertanyaan di atas yang dijadikan rumusan masalah, yaitu :
1. Daerah mana di Indonesia yang paling banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup manusia?
2. Nama-nama daerah yang ada dalam daftar itu terletak di pulau mana saja?
3. Pulau mana yang paling banyak memiliki daerah yang berhasil didaftar tersebut?
4. Daerah yang berhasil didaftar itu, lebih banyak terletak di daerah pantai atau di dataran tinggi dan pegunungan?
5. Suku bangsa apa saja yang mendiami daerah yang banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup mausia tersebut?
(2) Perumusan Hipotesis
Setelah masalah berhasil dirumuskan, maka langkah selanjutnya merumuskan hipotesis, yaitu dengan membuat pernyataan tentatif. Pernyataan tersebut berisi jawaban sementara dari rumusan masalah yang diajukan. Hipotesis haruslah berhubungan dengan rumusan masalah yang diajukan sebelumnya. Untuk mendapatkan rumusan hipotesis yang baik, siswa juga harus menguasai pengetahuan yang berhubungan dengan rumusan masalah, dalam hal ini misalnya pengetahuan peta Indonesia, pengenalan budaya daerah dalam masyarakat Indonesia dan lain-lain yang diperlukan. Pernyataan sementara yang disebut hipotesis itu berguna sebagai penunjuk arah tentang inkuiri yang dilaksanakan, agar pelaksanaan inkuiri dapat terfokus. Kita tidak akan mendapatkan jawaban jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak dicoba diberi jawabannya. Karena itu, kita perlu memberikan jawaban sementara untuk diuji kebenarannya. Jawaban-jawaban yang telah teruji itulah yang merupakan jawaban hasil inkuiri yang secara empirik diyakini kebenarannya. Maka inkuiri mendapatkan hasil melalui jawaban sementara yang disebut hipotesis tersebut. Sebagai contoh, berdasarkan rumusan masalah di atas, maka disusun rumusan hipotesis sebagai berikut:
1. Nama-nama daerah yang banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup, antara lain: di pulau Jawa, Sumatera, dan Bali.
2. Daerah yang banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup, pada umumnya lebih banyak terletak di daerah dataran tinggi dan pegunungan.
3. Di antara suku bangsa yang dikenal banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup, antara lain suku Sunda, Jawa, Minangkabau, dan Bali. Pernyataan-pernyataan tersebut akan dibuktikan kebenarannya setelah dilakukan pengumpulan dan analisis data. Maka pernyataan tersebut dapat saja benar, tetapi dapat pula salah. Apabila setelah dilakukan pengujian ternyata benar, maka hal itu akan menjadi pengetahuan baru bagi siswa.
(3) Definisi (konseptualisasi) Masalah
Pernyataan-pernyataan sementara yang disebut hipotesis di atas, mengandung fakta dan konsep yang berasal dari berbagai bidang studi. Misalnya, konsep tentang budaya yang berasal dari antropologi, peta yang berasal dari geografi, dsb. Konsepkonsep yang berasal dari berbagai bidang studi tersebut dapat dipahami secara berbeda oleh orang yang berbeda. Karena itu haruslah dibuat definisi yang jelas dan dapat dimengerti orang banyak, setidaknya untuk keperluan inkuiri ini, atau dalam konteks ini. Sebagai contoh, konsep tentang “pepatah”, yang dimaksud dengan pepatah dalam proses inkuiri ini adalah “rumusan kalimat yang berisi pesan berupa hikmah yang biasanya diyakini kebenarannya dan diterapkan oleh sekelompok masyarakat di daerah tertentu”. Demikian seterusnya, dirumuskan definisi tentang konsep-konsep lain yang digunakan dalam inkuiri ini, seperti yang dimaksud dengan daerah, pulau, suku bangsa dsb. 
(4) Pengumpulan Data
Dalam inkuiri, rumusan masalah akan dijawab dengan pengumpulan data. Demikian pula hipotesis juga akan diuji melalui data yang dikumpulkan. Karena itu, tahap pengumpulan data amat menentukan dalam serangkaian langkah inkuiri. Pengumpulan data bisa dilakukan dengan cara melakukan survey, eksperimen, atau kajian sejarah. Survey dapat dilakukan dengan terlebih dulu menetapkan sampel, yaitu sebagian dari sebuah populasi yang akan diselidiki, yang karenanya memiliki ciri-ciri yang sama dengan populasinya. Penetapan sampel yang biasa dilakukan dan diakui akurasinya adalah dengan cara acak (random). Cara pengumpulan data dengan survey ini lebih mudah dibandingkan dengan cara pengumpulan data yang lain. Dengan survey, siswa dapat menanyakan pendapat siswa yang lain sekelasnya, atau siapa saja yang sesuai ketentuan sudah ditetapkan sebagai sampel. Tentu untuk dapat menanyakan sesuatu kepada sampel, haruslah dibuat lebih dulu alat pengumpul datanya (instrumen). Eksperimen adalah sebuah proses yang berlangsung untuk menentukan apakah suatu konsep atau variabel berhubungan dengan konsep (variabel) lain, apakah suatu konsep mempengaruhi keberadaan konsep yang lain. Untuk itu, siswa dalam situasi eksperimen melakukan kontrol, dan mengukur variabel yang dieksperimenkan. Guru dapat membantu eksperimen siswa dengan menggunakan metode “bermain peran”, misalnya dengan tema diskriminasi antar etnik di Indonesia. Dengan tema ini guru dapat merekayasa cerita tentang perlakuan diskriminasi suatu kelompok masyarakat terhadap kelompok lain berdasarkan warna kulit, dan sebagainya. Siswa dapat mengamati dan melakukan pengukuran seberapa besar pengaruh perlakuan diskriminasi itu terhadap sikap korbannya. Untuk pengumpulan data, guru dapat membimbing siswa melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Sebagai contoh:
• Dimana kita dapat mengumpulkan informasi mengenai pepatah yang mengandung hikmah untuk kehidupan?
• Mengapa ada daerah yang terkenal memiliki pepatah petitih yang amat banyak, dan di daerah lain kurang?
• Apakah terdapat hubungan antara permukaan geografis, seperti dataran tinggi dan dataran rendah (pantai) dengan suburnya seni sastra yang menghasilkan pepatah petitih tersebut?
• Dengan cara bagaimana kita dapat mengumpulkan data tersebut? • Lain-lain pertanyaan yang dapat mengarahkan siswa untuk dapat melakukan pengumpulan data. Jangan lupa konsistensi dalam inkuiri. Karena itu, kepada siswa agar diingatkan bahwa dalam rangkaian inkuiri ini ada beberapa hipotesis yang harus diuji, dan pengumpulan data ini adalah dalam rangka untuk menguji hipotesis tersebut.
 (5) Evaluasi dan Analisis Data
Evaluasi data dimaksudkan untuk menentukan apakah data yang dikumpulkan sudah cukup dan lengkap untuk melakukan pengujian hipotesis, serta dapat dipercaya atau belum. Seringkali data yang sudah berhasil dikumpulkan itu tidak sesuai dengan kebutuhan pengujian hipotesis. Data yang tidak berguna dapat disimpan untuk keperluan inkuiri yang lain yang sesuai dengan data tersebut. Data yang didapat dari studi sejarah, laporan tertulis, atau dokumen lain juga harus diteliti secara berhati-hati, misalnya sumber data tersebut apakah akurat atau tidak. Evaluasi dapat dilakukan dengan membandingkannya terhadap data serupa dari sumber yang berbeda. Data yang sudah dievaluasi dan memenuhi syarat, maka digunakan untuk menguji hipotesis dengan cara menganalisisnya. Analisis dilakukan sesuai kebutuhan pengujian hipotesis. Jika hipotesis yang diajukan adalah hipotesis deskriptif, maka analisis yang dilakukan juga secara deskriptif, yaitu memaparkan makna yang dijelaskan dalam data yang sudah dikumpulkan. Tapi jika hipotesis yang diajukan adalah hipotesis tentang hubungan, maka analisis yang dilakukan juga analisis data tentang hubungan, dst. 
(6) Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk melakukan verifikasi setiap hipotesis yang diajukan dengan data dan informasi yang telah dikumpulkan. Apabila hipotesis sudah dapat diverifikasi dan cocok dengan data dan informasi yang dikumpulkan, maka hasil verifikasi (pencocokan) itu dapat dijadikan generalisasi, sebagai salah satu bentuk isi dari pembelajaran IPS sebagaimana dijelaskan di atas. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa generalisasi adalah hipotesis yang sudah teruji melalui verifikasi terhadap data. Siswa dibimbing untuk mendapatkan generalisasi sebagai hasil dari kegiatan inkuiri yang mereka lakukan. Contoh generalisasi yang dihasilkan dari inkuiri ini, misalnya :
• Masyarakat yang secara umum tinggal di daerah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi umumnya banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup.
• Masyarakat yang tinggal di daerah yang dataran tinggi atau pegunungan dengan iklim yang sejuk pada umumnya banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup.
• Di antara suku bangsa yang dikenal banyak memiliki kata pepatah yang mengandung hikmah pelajaran dalam hidup, antara lain suku Sunda, Jawa, Minangkabau, dan Bali.
(7) Kembali ke langkah awal untuk melakukan inkuiri sekali lagi Pengetahuan ilmiah selalu tidak bersifat mutlak, demikian pula dengan hasil inkuiri yang didapat. Hasil inkuiri haruslah dikaji ulang, diverifikasi, diuji dan distrukturisasi ulang. Para ahli ilmu sosial umumnya sepakat bahwa pengetahuan sosial bersifat siklus dan tidak linear. Karena itu, generalisasi dan teori dalam ilmu sosial akan berubah ketika ditemukan data baru yang menolak generalisasi dan teori yang lama. Dengan inkuiri ini, maka siswa membiasakan diri untuk belajar berpikir secara kritis dan sistematis, meskipun mereka harus yakin bahwa hasilnya bersifat tentatif. Mereka akan terdorong untuk melanjutkan penyelidikannya ketika menemukan sesuatu informasi yang menantang, atau ketika mendapatkan asumsi baru yang berbeda dari asumsi yang dipegangnya. Untuk merangsang pelaksanaan inkuiri selanjutnya, guru dapat memancing dengan beberapa pertanyaan, antara lain sebagai berikut:
• Apakah kita dapat memastikan bahwa kesimpulan yang kita dapat sebagai hasil dari inkuiri ini akurat?
• Apakah terdapat informasi lain yang dapat melengkapi dan menyempurnakan generalisasi yang kita hasilkan?
• Benarkah bahwa hanya daerah yang berhasil kita daftar saja yang memiliki budaya pepatah yang bernilai itu?
• Apakah kita memiliki data dan informasi mengenai daerah lain secara lebih lengkap. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mendorong siswa untuk mencari informasi lain dan melakukan inkuiri selanjutnya. Bisa saja dalam inkuiri selanjutnya didapat kesimpulan berupa generalisasi bahwa “secara umum masyarakat Indonesia di seluruh daerah memiliki kata-kata pepatah yang mengandung hikmah bagi kehidupan manusia”.
Pembelajaran Fakta dan Konsep dalam IPS
Fakta sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah salah satu bentuk isi dari materi pembelajaran IPS. Dalam tingkatan kateri pembelajaran, fakta adalah bagian pengetahuan dengan tingkat yang paling rendah. Namun demikian, fakta menduduki jumlah paling banyak dalam pengetahuan sosial. Fakta ialah keadaan tertentu tentang kejadian atau sesuatu yang nyata yang menjadi data atau sasaran observasi, seperti orang, tempat, arti kejadian atau keadaan yang spesifik (zaini....) Contoh fakta misalnya “Jakarta adalah ibukota negara Republik Indonesia” atau contoh lain, “Bumi, di alam ini mengelilingi Matahari”. Malaysia telah menjadi penghasil minyak sawit terbesar dunia pada tahun 2005” Pembelajaran fakta diperlukan untuk pembelajaran pada tingkat pengetahuan di atasnya ialah pembelajaran konsep. Hal ini karena fakta dan konsep memiliki hubungan hirarkhis, bahwa konsep dibentuk oleh beberapa fakta. Untuk membelajarkan konsep tentang urbanisasi di kota-kota besar di Indonesia misalnya, siswa dapat diajak untuk memfokuskan lokasi pada satu wilayah. Sebagai contoh urbanisasi di Jakarta, siswa dapat diajak untuk mengingat kembali fakta-fakta yang berhubungan dengan konsep tersebut, antara lain:
• Jakarta adalah kota dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi
• Jakarta adalah kota besar yang amat ramai
• Di daerah kegiatan ekonomi dianggap sulit.
• Masyarakat di daerah sering melihat orang pulang dari Jakarta dengan membawa kemewahan. Dengan fakta-fakta tersebut siswa dapat dengan mudah diajak untuk membuat sebuah kesimpulan tentang konsep urbanisasi, bahwa “urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari daerah yang jarang penduduknya ke daerah/kota yang padat penduduk dengan harapan mendapat tingkat kehidupan ekonomi yang lebih baik .... dst” sesuai dengan karakteristik yang tergambar dalam fakta. Kesimpulan yang disusun dengan fakta yang cukup, maka akan menghasilkan abstraksi konsep yang lebih lengkap dan lebih akurat. Siswa bisa diajak lebih dulu menghafalkan daerah-daerah yang masyarakatnya ber-urbanisasi ke Jakarta. Siswa juga dapat mempelajari daerah bersangkutan secara lebih dalam, misalnya tentang asal muasal daerah itu, nama daerah itu, pemimpinnya, tingkat kepadatan penduduk, tingkat ketinggiannya dari permukaan laut, dan karakteristik lain secara lebih dalam. Untuk itu, siswa dapat dikelompokkan untuk melaksanakan latihan sesuai
dengan tugas yang diberikan guru. Untuk menggali fakta yang lebih banyak, dapat pula siswa diajak untuk melakukan diskusi kelompok, dengan tugas menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan di atas. Untuk 4 pertanyaan di atas, maka siswa dapat dibagi menjadi 4 kelompok. Bahkan siswa dapat pula merumuskan pertanyaan sendiri
sepanjang berkaitan dengan konsep urbanisasi. Penugasan yang berkaitan dengan tema di atas, misalnya sebagai berikut:
• Kelompok 1 mengerjakan tugas pertama, yaitu menyusun narasi untuk menjelaskan tema: “Jakarta adalah kota dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi”.
Mengapa bisa terjadi seperti itu? Apa implikasinya? Bagaimana cara mengatasinya?
• Jakarta adalah kota besar yang amat ramai Mengapa bisa terjadi seperti itu? Apakah ada kaitan dengan kesenjangan pembangunan desa-kota? Bagaimana prospeknya ke depan?
•Di pedesaan kegiatan ekonomi dianggap sulit. Mengapa bisa terjadi seperti itu?
Apakah terdapat implikasinya? Bagaimana cara kaitan dengan perbedaan kebijakan pembangunan di desa dan di kota?
• Masyarakat di daerah sering melihat orang pulang dari Jakarta dengan membawa kemewahan. Benarkah seperti itu? Apakah ada kaitan dengan kesenjangan pembangunan desa-kota? Bagaimana prospeknya ke depan? Apa upaya yang bisa dilakukan?
Pendidikan IPS dengan Model Pembelajaran Multi Etnik dan Pembelajaran Kooperatif
a.      Pembelajaran Multi Etnik
Masyarakat Indonesia adalah sebuah masyarakat majemuk atau bhinneka tunggal ika, yaitu sebuah masyarakat negara yang terdiri atas masyarakatmasyarakat sukubangsa yang dipersatukan dan diatur oleh sistem nasional dari masyarakat negara tersebut. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini penekanan keanekaragaman adalah pada sukubangsa dan kebudayaan sukubangsa. Masyarakat majemuk seperti Indonesia, bukan hanya beranekaragam corak kesukubangsaan dan kebudayaan sukubangsanya secara horizontal, tetapi juga secara vertikal atau jenjang menurut kemajuan ekonomi, teknologi, dan organisasi sosial-politiknya (Suparlan, 1979). Masyarakat majemuk, dalam literatur sering kita jumpai juga atau identik dengan istilah pluralisme. Pluralisme adalah suatu paham yang menerima ko-eksistensi keragaman yang mencakup berbagai suku bangsa, golongan, agama, dsb dalam suatu masyarakat yang majemuk tersebut yang merupakan pengejawantahan motto “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu meski pun berbeda-beda, kita tetap satu jua, yakni Indonesia. Pluralisme diharapkan dapat memupuk kerukunan dan persatuan bangsa dalam suatu masyarakat majemuk seperti masyarakat Indonesia. Menurut Suparlan (2005), penekanan dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, yaitu pada keanekaragaman sukubangsa telah menghasilkan adanya potensi konflik antar sukubangsa dan antara pemerintah dengan sesuatu masyarakat terdiri atas masyarakat-masyarakat sukubangsa yang dipersatukan dan diatur oleh sistem nasional dari masyarakat negara tersebut. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini penekanan keanekaragaman adalah pada sukubangsa dan kebudayaan sukubangsa. Masyarakat majemuk seperti Indonesia, bukan hanya beranekaragam corak kesukubangsaan dan kebudayaan sukubangsanya secara horizontal, tetapi juga secara vertikal atau jenjang menurut kemajuan ekonomi, teknologi, dan organisasi sosial-politiknya (Suparlan, 1979). Masyarakat majemuk, dalam literatur sering kita jumpai juga atau identik dengan istilah pluralisme. Pluralisme adalah suatu paham yang menerima ko-eksistensi keragaman yang mencakup berbagai suku bangsa, golongan, agama, dsb dalam suatu masyarakat yang majemuk tersebut yang merupakan pengejawantahan motto “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu meski pun berbeda-beda, kita tetap satu jua, yakni Indonesia. Pluralisme diharapkan dapat memupuk kerukunan dan persatuan bangsa dalam suatu masyarakat majemuk seperti masyarakat Indonesia. Menurut Suparlan (2005), penekanan dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, yaitu pada keanekaragaman sukubangsa telah menghasilkan adanya potensi konflik antar sukubangsa dan antara pemerintah dengan sesuatu masyarakat sukubangsa. Potensi-potensi konflik tersebut memang sebuah permasalahan yang ada bersamaan dengan keberadaan coraknya yang secara sukubangsa majemuk. Bruner (dalam Suparlan, 2005) pada waktu membahas teorinya mengenai ‘hipotesa kebudayaan dominan’ sebenarnya berbicara mengenai kesukubangsaan sebagai sebuah kekuatan sosial politik. Salah satu kekuatan kesukubangsaan yang dapat dilihat dan diamati sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dari sebuah masyarakat sukubangsa adalah kemampuannya untuk menentukan macam mata pencaharian yang dapat dikerjakan oleh pendatang dari sukubangsa lain. Bila pelanggaran dilakukan maka konflik antar sukubangsa berpotensi untuk dapat terwujud. Oleh karena itu, kerukunan dan kesatuan bangsa dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia amat perlu dikembangkan. Dari aspek pendidikan, khususnya pendidikan IPS, yang bisa dilakukan ialah menanamkan pentingnya rasa kerukunan dan persatuan bangsa itu melalui wahana pendidikan. Maka perlu dicari upaya metodologi pembelajaran, khususnya dalam pendidikan IPS yang mampu membangun semangat kebersamaan, kerukunan dalam berbangsa dan bermasyarakat. Keterampilan yang dibutuhkan ialah keterampilan kooperatif yang antara lain mampu menjadi pendengar yang baik, menghargai kontribusi pihak lain dalam kelompok, kemampuan berpartisipasi dalam kelompok dan sebagainya. Pembelajaran yang dianggap cocok untuk mengembangkan keterampilan dan rasa kerukunan dan persatuan bangsa tersebut ialah model pembelajaran multi etnik. Model pembelajaran ini menurut Akhinuddin (2001) adalah menumbuhkembangkan pengetahuan tentang kelompok etnik tertentu. Asumsi operasionalnya adalah menambah pengetahuan tentang suatu kelompok etnik, dan diharapkan dapat menumbuhkembangkan sikap positif. Struktur konsep model ini adalah mempelajari suatu etnik dengan pandangan : (1) suatu suku itu adalah alami dan dalam proses perubahan dan pertumbuhan, (2) suatu suku diatur oleh sistem nilai dan kepercayaannya, (3) pada suatu suku terdapat keragaman internal, (4) pada suatu suku ada kesamaan dan ada pula perbedaan dengan suku lainnya. Menurut bahwa model studi etnik telah dipakai luas dan lama di Amerika Serikat, dan telah menghasilkan sikap pembauran di kalangan masyarakat Amerika. Sehingga model ini direkomendasikan dipakai untuk pengajaran studi sosial dan seni bahasa. Pengajaran etnik plural adalah model pengajaran yang menekankan pada nilai-nilai, seperti menghargai: keragaman kebudayaan, hak azasi manusia, dan sikap-sikap kemuliaan manusia lainnya. Pengajaran multietnik (ethnic plural) merupakan strategi pengajaran yang menyadari adanya keragaman etnik dan bahasa. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, maka pengajaran di kelas haruslah mempertimbangkan keragaman tersebut, umpamanya: menerima siswa dari berbagai asal etnik, mengatur tempat duduk yang mencerminkan pembauran etnik yang berbeda, dan upaya lainnya yang berkenaan dengan penanaman rasa menghargai keragaman, serta menumbuhkan persatuan dalam kerukunan. Pendidikan multi etnik (dan multi kultur), menurut Marsh (1991:294) adalah untuk :
• Memahami proses imigrasi dan memiliki perhatian yang relevan untuk mendorong faktor-faktor efektif dalam proses tersebut.
• Memahami kebiasaan, nilai-nilai dan kepercayaan, yang ditunjukkan oleh masyarakat pada umumnya
• Menumbuhkan kepercayaan diri terhadap etnis lain yang berbeda.
• Mengembangkan kemampuan untuk menghindari stereotip
• Mampu mengevaluasi kultur lain secara objektif
• Mengembangkan kemampuan menerima perbedaan tanpa rasa terancam
• Menghargai masyarakat bangsa di sebuah negara yang multi kultur
• Menghargai perbedaan dan menghindari prasangka.

Pendekatan yang dapat dipilih antara lain:
a.  Pengorganisasian Pelajaran  berdasarkan Unit
Pengorganisasian pembelajaran berdasarkan unit dimaksudkan sebagai pembelajaran yang difokuskan pada suatu topik tertentu yang dapat diambil dari kurikulum pendidikan IPS. Keuntungan dari pendekatan ini ialah :
• Perhatian siswa terfokus pada unit pelajaran ini
• Menghindari tercampurnya informasi secara kacau dengan isu-isu lain di luar unit
• Siswa memiliki kesempatan lebih yang lebih luas tentang unit tersebut. banyak untuk mendapatkan gambaran
b. Pembelajaran secara Integrasi
Pembelajaran secara integrasi dimaksudkan sebagai proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan mengintegrasikan berbagai bidang studi seperti musik, bahasa, kesenian dan lain-lain dalam sebuah aktivitas pembelajaran yang dirancang untuk tujuan pendidikan IPS. Menurut Marsh (1991), pembelajaran secara integrasi cocok digunakan untuk siswa kelas rendah (SD Kelas 1-3). Aktivitas pembelajaran multi etnik yang dapat dilakukan menurut Jarolimek (1986) antara lain:
• Melakukan penelitian kontemporer secara kelompok
• Menggunakan kliping koran dan majalah dinding
• Membaca buku fiksi
• Menggunakan boneka untuk menggambarkan legenda yang ada pada sebuah etnik tertentu
• Membuat berita tentang posisi sebuah suku bangsa dalam peristiwa konflik tertentu
• Bernyanyi dan mempelajari isi nyanyian serta maksud tarian dari berbagai suku yang berbeda
• Menyediakan buletin dinding dan bentuk display yang lain
• Menugaskan siswa untuk menganalisis acara televisi yang berkaitan dengan tradisi dan budaya suatu suku bangsa
• Mengunjungi mesium, pameran, artifak, dan berbagai koleksi yang dimiliki oleh suatu suku bangsa dalam masyarakat Masyarakat harus menyadari adanya keragaman etnik dan ikut berpartisipasi kreatif menerima dan menjaga kondisi etnik plural. Antar masyarakat yang berbeda dengan sekolah harus membuat program bersama agar kekuatan hubungan (relationship power) antaretnik semakin besar. Berikut ini disampaikan strategi mengajar model studi etnik dalam beberapa mata pelajaran.
Model Pembelajaran Kooperatif
Bentuk pembelajaran lain yang dianggap cocok untuk mengembangkan keterampilan ini ialah model pembelajaran kooperatif. Menurut Thomson, et al (dalam Karuru, 2005), pembelajaran kooperatif turut menambah unsur-unsur interaksi sosial. Di dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 siswa, dengan kemampuan yang heterogen, yaitu terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin dan suku. Suasana pembelajaran seperti itu bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerjasama di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan (Slavin, dalam Karuru, 2005) Keterampilan-keterampilan yang dapat dilatih dengan Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran Kooperatif ialah sebuah model pembelajaran yang mengutamakan pengembangan keterampilan kelompok yang berfungsi untuk melancarkan komunikasi dan pembagian tugas. Keterampilan yang dikembangkan dalam pembelajaran Kooperatif diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi pelajaran, tetapi siswa dilatih menguasai keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan membagi tugas anggota kelompok selama kegiatan. Keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut antara lain sebagai berikut (Lundgren dalam Karuru, 2005) “
• Keterampilan Tingkat Awal
(1) Menggunakan Kesepakatan, yaitu kemampuan menyamakan pendapat yang berguna untuk meningkatkan kerja dalam kelompok.
(2) Menghargai kontribusi, yaitu menghargai pendapat orang lain
(3) Mengambil giliran dan berbagai tugas, kemampuan kelompok, bahwa
setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan bersedia mengemban tugas/ tanggung jawab tertentu dalam kelompok.
(4) Berada dalam kelompok, yaitu kemampuan bertahan untuk bekerja selama kegiatan berlangsung
(5) Berada dalam tugas, kemampuan meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu yang dibutuhkan.
(6) Mendorong partisipasi, yaitu kemampuan mendorong semua anggota kelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok.
(7) Mengundang orang lain untuk berpartisipasi
(8) Menyelesaikan tugas pada waktunya
(9) Menghormati perbedaan individu
• Keterampilan Tingkat Menengah Keterampilan tingkah menengah meliputi kemampuan menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat rangkuman, menafsirkan, mengatur dan mengorganisir, serta mengurangi ketegangan.
• Keterampilan Tingkat Mahir Berupa kemampuan mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan, dan berkompromi.
. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam melaksanakan Pembelajaran Kooperatif menurut Karuru (2005) antara lain sebagaimana tergambar pada tabel
Tabel 6.1. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
FASE
KEGIATAN GURU
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa


Fase 2
Menyajikan informasi


Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompokkelompok belajar


Fase 4
Membantu kerja kelompok
dalam belajar

Fase 5
Mengetes materi




Fase 6
Memberikan penghargaan


Guru menyampaikan semua tujuan
pembelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan peragaan (demonstrasi) atau teks.

Guru menjelaskan siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar
melakukan perubahan yang efisien.

Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan
tugas.

Guru mengetes materi pelajaran atau
kelompok menyajikan hasil-hasil pekerjaan
mereka.


Guru memberikan cara-cara untuk
menghargai baik upaya maupun hasil
belajar individu dan kelompok


Pembelajaran Nilai dalam IPS
Untuk membelajarkan system nilai hendaknya diciptakan suasana kelas yang demokratis. Kita tidak dapat mengharapkan siswa memiliki sikap sesuai dengan nilai-nilai yang diakui dalam masyarakat apabila kita belum dapat menciptakan kelas dengan suasana yang menerapkan nilai-nilai tersebut. Karena itu kelas harus diciptakan sebagai laboratorium masyarakat, yang melatih bagaimana menerapkan nilai-nilai itu dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan utama dari pembelajaran nilai ialah melatih siswa untuk mampu mengembangkan kompetensi, baik kompetensi personal, sosial, kemampuan bertindak sebagai warga negara. Nilai dalam konteks ini menurut Banks (1990) ialah berupa keyakinan, yang terletak di tengah-tengah/menjadi sentral dari keseluruhan total keyakinan yang dimiliki seseorang. Nilai lebih umum dibandingkan dengan sikap dan mempengaruhi perilaku manusia. Manusia biasanya mempelajari nilai-nilai itu melalui tingkah laku manusia lain dalam lingkungannya. Sekolah harus memainkan peran penting dalam membantu siswa untuk mampu mengidentifikasi, dan mengklarifikasi nilai-nilai yang hidup di tengah-tengah masyarakat, serta pada akhirnya siswa mampu melakukan pilihan secara tepat untuk pola perilaku dalam hidupnya. Menurut Banks (1990), yang sering dilakukan sekolah dalam pendidikan nilai ialah melakukan indoktrinasi kepada siswa. Hal tersebut tidak dapat berhasil, karena kita tidak bisa mendidik dengan indoktrinasi untuk mengembangkan kemampuan merefleksi, dan membangun komitmen dalam masyarakat yang demokratis.
Tujuan Pendidikan Nilai
Tujuan utama pendidikan nilai adalah membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan melakukan klarifikasi nilai secara konsisten, yang dapat mengarahkan tingkah laku siswa secara reflektif. Tujuan ini hanya akan dapat dicapai apabila pembelajaran di kelas dilaksanakan secara demokratis. Dalam kelas yang demokratis, siswa akan dapat mengekspresikan nilai-nilai yang dimilikinya, menentukan sendiri pilihannya untuk mendukung atau tidak mendukung sesuatu hal, dapatmempertimbangkan akibat apa yang diterima dengan pilihannya itu. Dengan suasana seperti ini siswa juga akan lebih memiliki kesempatan memikirkan dan menguji nilainilai yang dimilikinya, untuk mengembangkan komitmennya terhadap harga diri manusia, persamaan, dan nilai-nilai demokrasi yang lain.
Model Pembelajaran Inkuiri Nilai
Pembelajaran nilai dalam IPS memiliki metoda yang beragam. Itu semua adalah dalam kerangka menyiasati untuk membantu siswa mendapatkan dan melakukan pilihan nilai yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran umum, keadilan serta sistem nilai dan moral yang dianut masyarakatnya. Beragamnya metode pendidikan nilai, juga mengingat nilai tidak efektif dibelajarkan dengan metode pembelajaran kognitif. Karakteristiknya memang berbeda. Berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran nilai yang dikemukakan Bank (1990), yang disebutnya sebagai “inkuiri nilai”.
(1) Menetapkan Problem Nilai (Pengamatan dan Pembedaan) Untuk dapat melakukan refleksi nilai dalam rangka memecahkan masalah berhubungan dengan nilai-nilai, maka siswa harus lebih dulu menetapkan, menyadari, dan mendefenisikan adanya nilai. Guru dapat membantu siswa antara lain dengan menyajikan masalah-masalah yang ada dalam buku cerita, atau informasi faktual sehari-hari. Siswa diajak untuk mengenali dan menguraikan komponen-komponen nilai yang disajikan itu. Untuk itu siswa dibimbing dengan pertanyaan, misalanya:
• Masalah apa saja yang terdapat dalam cerita tersebut?
• Masalah apa yang penting untuk dikaji dalam cerita itu?
(2) Menjelaskan nilai yang relevan dengan tingkah laku (menjelaskan dan membedakan) Pada tahap ini, siswa diajak untuk
mengidentifikasi dan memberikan nama terhadap perilaku yang terdapat dalam cerita tersebut. Perilaku yang diberi nama ialah perilaku yang merupakan karakter individu. Untuk membantu
siswa dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
• Apa saja yang dilakukan oleh para tokoh dalam cerita tersebut? Ketika siswa menjelaskan perilaku para tokoh dalam cerita, mereka dituntut membuat kesimpulan-kesimpulan kecil, dan pertimbangan serta pembenaran nilainilai. Dengan demikian siswa sebenarnya telah melakukan aktifitas untuk mengembangkan keterampilan mengamati, membedakan, membuat keputusan dan melakukan penilaian.
(3) Melakukan Identifikasi-Deskripsi, dan Hipotesis Guru dapat membantu siswa pada tahap ini dengan mendaftar perilaku yang dilakukan oleh setiap tokoh dalam cerita dalam bentuk beberapa kolom. Berdasarkan tokoh. Siswa kemudian diminta untuk mencocokkan perilaku yang penting pada suatu kolom dengan perilaku penting lainnya yang terdapat pada kolom yang lain.
 (4) Menentukan Konflik Nilai yang ada dalam Perilaku yang dijelaskan. Langkah ini dimaksudkan untuk menunjukkan kepada siswa bahwa di masyarakat terdapat banyak konflik nilai. Dalam cerita yang disajikan pada bagian awal pembelajaran, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk menemukan nilai-nilai yang bertentangan di antara para tokoh. Padacerita factual yang disampaikan kepada siswa, maka siswa dapat menganalisis masalah-masalah mungkin masalah nilai yang berhubungan dengan kehidupan berpolitik, budaya, dan etika yang saling mempengaruhi.
(5) Menyusun hipotesis mengenai Nilai yang akan Dianalisis Pada tahap ini, siswa diminta untuk menyatakan hipotesis mengenai tujuan nilai yang akan dianalisis, sebagaimana disebut pada langkah ketiga. Hipotesis dinyatakan berdasarkan alasan-alasan yang mereka miliki dalam menanggapi nilai yang muncul. Langkah ini dimaksudkan untuk membantu siswa untuk menemukan nilai-nilai yang menjadi pegangan dalam kehidupan masyarakat. Melalui tahap ini juga siswa dapat mengevaluasi, apakah nilai yang ada itu sesuai dengan berbagai situasi yang ada di tengah-tengah masyarakat. Bentuk hipotesis, misalnya berisi tentang “mengapa nilai yang dianut setiap tokoh dalam cerita yang disajikan itu berbeda?” “Apa yang menyebabkan perbedaan tersebut?” Hipotesis dapat juga dinyatakan mengenai akibat yang terjadi dari perbedaan nilai yang mendasari kejadian tersebut.
(6) Identifikasi Nilai Alternatif melalui Pengamatan Perilaku Siswa pada akhirnya akan menyadari kenyataan bahwa di tengah masyarakat terdapat berbagai nilai alternatif yang dapat dipilih. Langkah ini dirancang untuk membantu siswa mendapatkan dan memilih nilai alternatif. Guru dapat mengarahkan siswa dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut: Ketika seorang tokoh yang ada dalam cerita merasa pas memperagakan nilai yang dimilikinya (melalui perilaku) “apakah terdapat nilai lain?” Siswa akan menyadari bahwa pandangan seseorang bukanlah satu-satunya kebenaran. Terdapat pandangan lain (berdasarkan nilai alternatif tertentu) yang juga memiliki nilai kebenaran.
(7) Menyatakan Hipotesis tentang Konsekuensi yang Mungkin Muncul Dengan Memperkirakan, Membandingkan, atau Membedakan Langkah ini amat penting dalam inkuiri nilai, yaitu untuk membantu siswa dalam:
(1) melihat perbedaan konsekuensi akibat dari perbedaan nilai,
(2) belajar menerima berbagai konsekuensi dari berbagai nilai yang berbeda, dan
 (3) mempertimbangkan berbagai konsekuensi yang berbeda sebagai keyakinan. Dalam cerita yang disajikan pada awal paparan ini, terdapat seorang tokoh yang memperagakan perilaku tertentu. Siswa dapat mengajukan pertanyaan mengapa orang tersebut berperilaku seperti itu, dan menyatakanhipotesis dengan cara memberi jawaban terhadap pertanyaan tersebut. Jawaban yang diberikan siswa (menurut pendapat siswa) itulah bentuk hipotesis.
(8) Menyatakan Nilai yang Dipilih, dengan Kemampuan Memilih Setelah siswa menjelaskan berbagai perilaku tokoh yang ada dalam cerita, kasus, dan situasi yang dipelajari, maka selanjutnya mengidentifikasi nilai-nilai, termasuk menentukan konflik yang terdapat di dalamnya. Selanjutnya memperkirakan konsekuensi yang mungkin timbul, dan mempertanyakan berbagai pilihan nilai yang dipilih oleh para tokoh dalam cerita tersebut. Pada langkah ini guru harus berhati-hati jangan terpancing untuk menyalahkan pilihan nilai yang tidak sesuai dengan pandangannya. Guru tidak perlu menyatakan pilihan nilainya sendiri, ketika siswa mengekspresikan pilihan nilainya. Pilihan nilai mereka akan diuji dalam pergaulan dengan teman-teman mereka di luar kelas, dan diharapkan mereka akan bebas berekspresi sampai dengan mendapatkan keyakinan yang benar.
(9) Menyatakan Alasan, Sumber, dan Berbagai Konsekuensi dari pilihan Nilai Langkah ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan melakukan jastifikasi, menguji hipotesis, dan memperkirakan akibat-akibat yang akan timbul dari pilihan perilakunya. Hasil yang akan dicapai ialah kemampuan siswa dalam mengekspresikan dan mempertahankan nilai pilihannya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya berkaitan dengan persamaan hak, keadilan, dan harga diri kemanusiaan. Guru dapat menggunakan strategi pertanyaan untuk membantu siswa menyatakan pilihan nilai dan mempertahankan pilihan moralnya. Pertanyaan-pertanyaan itu misalnya: “Apa yang akan diperbuat oleh para tokoh dalam cerita itu?” “Mengapa anda memperkirakan seperti itu?” “Indikasi penting apa saja yang Anda pikirkan yang terdapat dalam situasi ini?” “Apakah pertimbangan-pertimbangan Anda itu sudah dianggap adil?”, dsb. Prinsipnya, dalam inkuiri nilai, siswa harus mampu mengekspresikan sikap, keyakinan-keyakinan, nilai-niai yang mereka pilih secara bebas. Mereka akan menguji, memferivikasi dan memilih nilai-nilai baru yang dianggap lebih sesuai.
Ikhtisar
Pada masa yang akan datang, pembelajaran IPS dituntut lebih inovatif, menghadapi masyarakat global pada era post-industri. Pada masa itu partisipasi masyarakat pada lembaga kemasyarakatan baik politik maupun lainnya akan meningkat. Aktivitas politik juga akan meningkat bukan saja pada tingkat nasional, tetapi pada tingkat lokal dan regional. Isu desentralisasi dan sharing kekuasaan ke pemerntahan tingkat lokal (daerah-daerah) akan mewarnai masyarakat post-industri. Demikian juga dengan pemberian kewenangan untuk mengambil keputusan. Dari segi materi pelajaran, terdapat beberapa faktor yang mengharuskan perbedaan tersebut, misalnya IPS pada masa yang lalu sangat menekankan penguasaan fakta-fakta meski pada tingkat yang rendah, misalnya dengan menghapalkan nama-nama gunung, sungai, ibukota negara propinsi dan sebagainya. IPS lama juga ditandai dengan pembelajaran rasa nasionalisme yang tidak kritis (dogmatis), dan sangat berorientasi kepada buku teks. Pembelajaran IPS yang akan datang, difokuskan pada upaya membantu dan memfasilitasi siswa agar mereka memiliki kemampuan untuk berpartisipasi sebagai warga komunitas, warga negara, dan warga dunia dengan tingkat perubahan yang amat cepat. Untuk itu, maka siswa perlu difasilitasi agar mampu mengembangkan pengetahuan, kecakapan, sikap, nilai-nilai dan komitmen yang dibutuhkan. Kemampuan tersebut juga dibutuhkan untuk berpartisipasi dalam mengembangkan masyarakat yang demioktratis secara bertanggung jawab, seperti kemampuan mengakui dan menghargai kemajemukan dalam masyarakat. Untuk membelajarkan IPS dengan tuntutan seperti itu, maka seyogianya dikembangkan metode-metode mengajar yang mampu memfasilitasi siswa untuk melakukan klarifikasi, memiliki kecakapan berpikir (reflektif), melakukan identifikasi secara kritis tentang budaya baik di tingkat lokal dekat tempat tinggal, regional, nasional, maupun internasional. Keragaman sumber belajarpun sangat dibutuhkan. Untuk itu, dalam bab ini dipaparkan beberapa metode pembelajaran yang dianggap cocok dengan tujuan pendidikan IPS. Untuk membantu siswa membentuk kemampuan berpikir kritis dan sistematis dalam menanggapi fenomena sosial, serta kemampuan meningkatkan partisipasi, diupayakan dengan menggunakan metode inkuiri sosial. metode ini diimplementasikan dengan langkah-langkah: perumusan masalah, perumusan hipotesis, definisi (konseptualisasi) masalah, pengumpulan data, evaluasi dan analisi data, pengujian hipotesis, serta kembali lagi ke langkah awal untuk inkuiri selanjutnya. Untuk membantu siswa mengembangkan sikap toleran, mengakui dan menghargai kemajemukan, diupayakan dengan menggunakan pembelajaran multi etnik dan pembelajaran dengan metode kooperatif. Pembelajaran kooperatif dilaksanakan dengan langkah-langkah: penyampaian tujuan, menyajikan informasi, mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok, memfasilitasi siswa dalam kerja kelompok, mengetes materi, dan memberikan penghargaan. Model Inkuiri Nilai digunakan untuk memfasilitasi siswa mengembangkan sistem nilai yang dimiliki yang dapat mengarahkan tingkah lakunya secara reflektif. Nilai adalah pusat keseluruhan keyakinan yang dimiliki seseorang yang dikembangkan dengan belajar melalui tingkah laku manusia lain dalam lingkungannya. Melalui metode ini, siswa difasilitasi untuk mengembangkan kemampuan mengidentifikasi dan mengklarifikasi nilai yang hidup di tengah-tengah masyarakat, serta pada akhirnya mampu melakukan pilihan secara tepat untuk digunakan sebagai pola perilaku dalam hidupnya.

Sumber : Tugas Kelompok Mata kuliah Kapita Selekta oleh Mahasiswa/i FKIP UNLAM BANJARMASIN Prodi PGSD 7C Angkatan 2009

0 komentar: